Goa Pindul

Di wilayah Gunung Kidul, Yogyakarta terdapat beberapa gua yang memiliki aliran sungai bawah tanah, salah satunya bernama Goa Pindul, berada di desa Bejiharjo, Karangmojo. Memiliki panjang total 350 meter dan lebar antara 5-6 meter, kedalaman dasar gua antara 4-7 meter, dan tinggi dari permukaan air ke langit gua sekitar 4,5 meter, serta waktu tempuh yang tidak terlalu lama hanya sekitar 46-60 menit.

Aliran sungai di dalam gua ini cenderung tenang, sehingga wisatawan tidak membutuhkan keahlian khusus maupun keterampilan yang tinggi untuk menyusuri gua. Wisatawan hanya membutuhkan perlengkapan berupa ban pelampung atau perahu karet, jaket pelampung dan helm berlampu, itupun sudah disediakan oleh pihak pengelola. Perpaduan dari kegiatan body rafting dan caving ini disebut dengan cave tubing. Cave tubing di Goa Pindul bisa dilakukan oleh anak anak maupun orang dewasa.

Goa Pindul memiliki 3 zona yaitu, zona terang, zona remang dan zona gelap. Petualangan menegangkan namun mengasyikkan akan didapatkan di dalam gua dengan air yang mengalir tenang. Keindahan dalam gua berupa stalagtit, stalagmit, bahkan pada saat cuaca cerah akan ada terobosan cahaya yang masuk dari langit gua yang berlubang (cahaya surga).

Nama Goa Pindul diambil berdasarkan kisah perjalanan Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan yang diutus oleh Panembahan Senopati dari Mataram untuk membunuh bayi laki laki anak dari Pembayun (putri Panembahan Senopati) dengan Mangir Wonoboyo (musuh Panembahan Senopati) dari Mangiran. Ditengah perjalanan kedua utusan Panembahan Senopati bersepakat untuk tidak membunuh bayi laki laki itu, kemudian kedua utusan tersebut pergi ke arah timur sampai di sebuah dusun daerah Karangmojo. Di tempat ini sekarang bernama dusun Gelaran, berdasar dari cerita bahwa kedua utusan menggelar tikar dan alas tempat tidur bekas persalinan dari sang bayi. Tangisan bayi yang tak berhenti membuat kedua utusan memutuskan untuk memandikan sang bayi. Salah satu dari utusan yaitu Ki Juru Mertani menaiki salah satu bukit dan di puncak bukit menggunakan kekuatannya dengan menginjak tanah, runtuhlah tanah yang diinjak dan terbentuk lubang besar dengan aliran air di bawahnya. Kemudian bayi laki laki tersebut dibawa turun dan dimandikan di dalam lubang yang terbentuk. Pipi sang bayi terbentur (Jawa:kebendhul) sebuah batu di dalam gua. Kejadian tersebut yang mendasari pemberian nama Goa Pindul.

Submenu

 

 
 

 
 
 
 
Wisata Tour